Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman mengandalkan konsep value for money sebagai senjata utama pariwisata di Bumi Sembada. Konsep ini dianggap paling relevan di tengah persaingan destinasi wisata yang makin ketat dan pilihan liburan yang makin beragam. Intinya, Sleman pengin wisatawan ngerasa apa yang mereka bayar itu sebanding, bahkan lebih, dari pengalaman yang didapat.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dispar Sleman, Kus Endarto, menegaskan kalau value for money bukan sekadar soal harga murah. Menurutnya, wisata murah yang ideal itu bukan yang banting harga, tapi yang bisa bikin wisatawan puas dan senang karena kualitasnya di atas ekspektasi. Jadi, meski tarifnya terjangkau, pengalaman yang didapat tetap maksimal.
Kus menjelaskan, indikator utama daya tarik wisata Sleman memang bertumpu pada keseimbangan antara biaya dan manfaat. Wisatawan yang datang, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, sekarang bisa menikmati berbagai aktivitas seru seperti wisata petualangan, alam, hingga budaya dengan kualitas yang bagus tapi tetap ramah di kantong. Saat wisatawan bayar, mereka berharap dapat pengalaman yang sepadan, atau malah lebih dari yang dibayangkan.
Kalau harapan itu terpenuhi, efeknya besar. Wisatawan yang puas biasanya tanpa diminta akan promosiin Sleman ke orang lain. Bisa lewat cerita langsung ke teman atau keluarga, atau lewat unggahan foto dan video di media sosial. Promosi model begini dinilai jauh lebih ampuh karena datang dari pengalaman nyata, bukan sekadar iklan.
Dispar Sleman melihat promosi organik ini bakal makin kuat kalau didukung bareng-bareng oleh semua pihak. Mulai dari pemerintah, pengelola destinasi, pelaku usaha akomodasi, restoran, sampai pedagang oleh-oleh. Kalau semua satu visi soal kualitas dan harga yang masuk akal, ekosistem pariwisata Sleman bisa tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Kus juga ngingetin kalau wisatawan punya keterbatasan, baik dari segi waktu maupun bujet. Pilihan destinasi banyak, tapi uang dan waktu nggak bisa nambah. Karena itu, prinsip value for money wajib dipahami semua pelaku wisata. Kalau pengelola konsisten menjaga kualitas dan pelayanan, besar kemungkinan wisatawan bakal balik lagi.
Lewat pendekatan ini, Sleman berharap bisa terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu destinasi favorit di Indonesia. Bukan cuma ramai dikunjungi, tapi juga selalu meninggalkan kesan positif buat setiap wisatawan yang datang.
Disadur dari harianjogja.com