Alasan Para Artis di Indonesia Gemar dengan Bisnis Kos-Kosan atau Kontrakan

Tya Ariestya ternyata sudah hampir satu dekade menjalankan bisnis kos-kosan. Bahkan, unit barunya disebut sudah mulai dilirik calon penghuni meski belum resmi dibuka.

Tya bukan satu-satunya. Ada Ria Ricis, Tantri Kotak, Arief Muhammad, Samuel Zylgwyn, Tukul Arwana, Naysila Mirdad, hingga Ayu Ting Ting yang juga memilih mengembangkan bisnis kos atau kontrakan.

Pertanyaannya, kenapa artis yang penghasilannya besar masih repot mengurus bisnis properti? Jawabannya ternyata cukup masuk akal.

Job Bisa Sepi, Uang Sewa Tetap Jalan

Penghasilan dari dunia hiburan sangat bergantung pada job, popularitas, dan tren. Hari ini bisa ramai tawaran, besok belum tentu.

Karena itu, sebagian artis mengubah penghasilan dari entertainment menjadi aset produktif. Saat job sedang sepi, kamar kos yang terisi tetap bisa menghasilkan pemasukan setiap bulan.

Buat mereka, properti bukan sekadar tempat menyimpan uang, tetapi sumber cash flow yang bisa terus berjalan.

Kamar Terisi, Aset Ikut Tumbuh

Daya tarik bisnis kos ada pada dua potensi sekaligus: pemasukan sewa dan kenaikan nilai aset.

Tya Ariestya melihat kos sebagai sumber pemasukan rutin sekaligus investasi jangka panjang. Tukul Arwana juga memanfaatkan properti sebagai sumber penghasilan yang lebih stabil dibanding pekerjaan hiburan yang sifatnya musiman.

Tapi tentu saja, cuan nggak datang otomatis. Tingkat hunian, biaya perawatan, harga tanah, hingga persaingan tetap harus dihitung.

Karier Bisa Berubah, Properti Bisa Bertahan

Popularitas artis nggak selamanya berada di puncak. Samuel Zylgwyn mulai merintis bisnis kos sekitar 2014–2015 karena sadar karier hiburan punya batas.

Properti kemudian dipersiapkan sebagai sumber pemasukan jangka panjang, termasuk untuk kebutuhan keluarga. Jadi, bisnis kos bukan cuma mengejar uang bulanan, tetapi juga menyiapkan kehidupan setelah karier utama berubah.

Lokasi Jadi Senjata Utama

Bisnis kos punya target pasar yang jelas, terutama mahasiswa, pekerja, dan orang yang membutuhkan tempat tinggal dekat aktivitas sehari-hari.

Tya Ariestya memilih kawasan perkantoran dan industri, sementara Samuel Zylgwyn dan Naysila Mirdad menyasar area kampus. Arief Muhammad juga membangun Ternak Kostan di sekitar kampus.

Intinya, lokasi lebih penting daripada sekadar bangunan yang keren. Kamar bagus di lokasi sepi bisa kosong, sedangkan kamar sederhana di area strategis justru gampang tersewa.

Bisa Dimulai dari Sedikit

Bisnis kos nggak wajib langsung punya ratusan kamar. Naysila Mirdad memulai dari sekitar 23 kamar sebelum berkembang menjadi sekitar 50–52 kamar. Tukul Arwana bahkan sudah memiliki sekitar 200 pintu kos dan kontrakan.

Jadi, mulai kecil juga sah-sah saja. Pelajari dulu pasar, okupansi, arus kas, dan biaya operasional sebelum ekspansi.

Penghasilan Besar Perlu Diubah Jadi Aset

Pada akhirnya, alasan artis melirik bisnis kos cukup sederhana: penghasilan besar belum tentu stabil. Sebagian uang perlu diubah menjadi aset yang tetap bekerja ketika pemiliknya sedang nggak bekerja.

Kos memang punya risiko, tetapi kalau lokasi, modal, pengelolaan, dan pasar dihitung matang, properti bisa memberikan cash flow sekaligus menjadi aset jangka panjang.

Disadur dari inilah.com

Bergabunglah dengan Diskusi

Compare listings

Membandingkan