Rusak Pasca Demo, Gedung Grahadi Butuh Restorasi Besar besaran

Sabtu malam (30/8/2025), Gedung Grahadi yang ada di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, jadi sasaran amukan massa. Api melalap bagian barat gedung, bikin suasana makin mencekam. Dari pantauan di lokasi sekitar jam 22.53 WIB, kobaran api keliatan jelas membakar sisi gedung bersejarah itu. Awalnya, massa ngumpul di depan Grahadi buat nuntut teman mereka yang ditangkap Polrestabes Surabaya sejak Jumat (29/8/2025) biar dilepas. Tapi sayangnya, aksi protes itu malah berujung rusuh dan kebakaran besar.

Peristiwa ini langsung bikin banyak pihak angkat bicara, salah satunya Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Ketua Umum IAI, Georgius Budi Yulianto atau yang akrab dipanggil Boegar, bilang kalau kerusakan di sayap barat Grahadi bikin hati makin perih. Soalnya, bagian itu salah satu elemen lama yang masih asli sejak awal dibangun. Menurut dia, upaya restorasi bakal butuh kerja ekstra besar, tapi yang lebih menyakitkan, nilai otentik sejarahnya udah keburu hilang dan nggak bisa diganti.

Boegar juga ngingetin kalau kejadian ini jadi alarm keras buat semua pihak, bahwa bangunan cagar budaya itu rentan banget jadi korban gejolak sosial. Masalahnya, kesadaran masyarakat soal pentingnya ngerawat bangunan bersejarah masih rendah. Edukasi publik harus jalan bareng-bareng, dari pemerintah, akademisi, sampai masyarakat. Soalnya, cagar budaya bukan sekadar bangunan tua, tapi simbol identitas dan jembatan sejarah bangsa.

Dia juga bilang, keresahan masyarakat buat nyampein aspirasi itu wajar dan dilindungi undang-undang. Tapi jadi runyam kalau demo disusupi orang-orang yang nggak bertanggung jawab sampai ujung-ujungnya jadi pengrusakan. Dalam kondisi chaos, bangunan bersejarah kayak Grahadi sering dijadiin sasaran karena dianggap simbol kekuasaan, padahal nilainya jauh lebih dari sekadar fisik.

Yang bikin makin nyesek, Grahadi itu bukan sembarang gedung. Dibangun tahun 1795 pas era Residen Dirk Van Hogendorps, awalnya dipakai jadi rumah kebun buat pejabat Belanda. Seiring waktu, fungsinya berubah jadi pusat pemerintahan Jawa Timur, tempat pelantikan pejabat, nerima tamu negara, sampai acara peringatan kemerdekaan. Sejak 1991, gedung ini juga dibuka buat umum, jadi warga bisa lebih deket kenal sejarah dan budaya yang ada di dalamnya.

Sekarang, pasca kebakaran, Grahadi jelas butuh restorasi besar-besaran. Tapi sebesar apapun usaha perbaikannya nanti, nilai sejarah yang kebakar nggak bakal bisa 100 persen balik kayak dulu. Peristiwa ini harusnya jadi pelajaran penting: jangan sampai warisan bersejarah bangsa hilang gara-gara konflik yang bisa diselesaikan dengan cara damai.

Disadur dari kompas.com

Bergabunglah dengan Diskusi

Compare listings

Membandingkan