Siapa sangka limbah tahu yang biasanya cuma jadi pakan ternak, sekarang bisa berubah jadi camilan kekinian yang masuk supermarket. Inovasi ini datang dari tangan Rahayu, pelaku UMKM asal Krapyak X, Margoagung, Seyegan, Sleman. Lewat rumah produksi bernama 2Dhe, ia sukses mengolah limbah tahu jadi keripik gembus yang renyah dan punya nilai jual tinggi.
Berawal dari Prihatin, Berujung Inovasi
Wilayah Krapyak X memang dikenal sebagai sentra tahu di Sleman barat. Limbah produksi tahu melimpah, tapi dulu cuma dianggap sisa. Melihat kondisi itu, Rahayu kepikiran buat ngasih nilai tambah. Sekitar sepuluh tahun lalu, ia mulai bereksperimen mengolah ampas tahu jadi camilan. Setelah coba-coba berbagai resep, akhirnya lahirlah keripik gembus yang rasanya gurih dan teksturnya kriuk.
Menurut Rahayu, sayang banget kalau limbah sebanyak itu cuma dibuang atau jadi pakan ternak. Dengan diolah, hasilnya bukan cuma buat tambahan penghasilan pribadi, tapi juga bisa berdampak ke warga sekitar.
Produksi Mandiri tapi Konsisten
Setiap hari, Rahayu mengolah sekitar tiga ember limbah tahu untuk menghasilkan 14 sampai 15 kilogram keripik gembus. Meski produknya sudah masuk pasar modern, proses produksi masih dikelola secara sederhana. Ia dibantu suami dan satu karyawan. Selain keripik gembus, 2Dhe juga memproduksi camilan lain seperti keripik kenikir, pare, dan usus crispy sesuai pesanan.
Tembus Supermarket Lewat Proses Panjang
Masuk ke rak supermarket jelas bukan proses instan. Rahayu rutin ikut pameran UMKM, Pasar Tani, sampai program kurasi dari dinas terkait. Dari situ, ia banyak belajar soal standar rasa, daya tahan produk, dan kemasan yang lebih profesional. Hasilnya, keripik gembus 2Dhe kini bisa bertahan sampai tiga bulan tanpa pengawet dan diterima pasar menengah ke atas.
Peduli Lingkungan dan Siap Go Digital
Bahan baku limbah tahu dipasok dari tiga perajin tahu sekitar rumah produksinya. Soal lingkungan, Rahayu juga serius. Limbah cair dikelola lewat sumur resapan khusus. Bahkan, tempat produksinya sering jadi lokasi penelitian mahasiswa. Ke depan, ia berencana masuk ke pasar digital supaya jangkauannya makin luas. Buat Rahayu, kunci UMKM bertahan ada di konsistensi, ketelatenan, dan keberanian berinovasi.
Disadur dari mediacenter.slemankab.go.id