Pemerintah lagi berusaha ngejaga semangat sektor properti biar tetap jalan. Salah satu kabar bagusnya, insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) buat pembelian rumah bakal diperpanjang sampai 2027. Tujuannya jelas, bantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) biar masih punya peluang beli rumah meski harga properti makin naik.
Tapi sekarang ada satu kelompok baru yang mulai disorot, yaitu masyarakat berpenghasilan tanggung (MBT) — mereka yang gajinya sekitar Rp8,5 juta sampai Rp15 juta per bulan. Kelompok ini sering disebut “terjepit”, karena nggak masuk kategori miskin buat dapat subsidi, tapi juga belum cukup kuat buat beli rumah komersial.
Ketua Badan Pertimbangan Organisasi REI, Paulus Totok Lusida, bilang pihaknya lagi dorong supaya kelompok MBT juga dapat keringanan, minimal buat rumah harga di bawah Rp500 juta. Bunganya tetap komersial, tapi dia usul biar bebas PPN.
Menurut Totok, pembebasan PPN ini efeknya gede banget buat pembeli rumah pertama. Soalnya pajak yang dibayar di awal bisa berlipat karena bunga cicilan. Kalau dihitung 10 tahun, nilainya bisa nyampe kayak beli dua rumah. Jadi, ngilangin PPN bakal ngurangin beban banget buat karyawan yang pengen punya rumah.
Pemerintah sebenarnya udah punya banyak program, kayak target tiga juta rumah, nambah kuota rumah subsidi sampai 350 ribu unit di 2025, dan pembebasan BPHTB serta retribusi PBG buat MBR. Tapi menurut Totok, dukungan buat kelompok menengah juga penting biar pasar properti lebih seimbang.
Dia bilang, kelompok menengah ini besar banget — sekitar 30 persen pasar properti. Kalau mereka dikasih insentif, dampaknya ke ekonomi bisa luar biasa. Apalagi, sektor properti ini nyambung ke lebih dari seratus industri lain, dari semen, baja, sampai furnitur. Kontribusinya ke PDB nasional sekitar 14 persen, dan bisa bantu dorong pertumbuhan ekonomi sampai 8 persen.
Intinya, memperluas insentif PPN bukan cuma soal bantu orang beli rumah, tapi juga strategi buat nguatin ekonomi nasional. Karena di balik satu rumah yang dibangun, ada efek berantai — nyiptain lapangan kerja, ngidupin industri, dan kasih harapan buat banyak keluarga biar bisa punya rumah sendiri.
Berikut rincian batas penghasilan MBTsesuai Permen Nomor 5 Tahun 2025:
Zona 1
Wilayah: Jawa (kecuali Jabodetabek), Sumatra, NTT, dan NTB
- Belum menikah: maksimal gaji Rp 8,5 juta
- Sudah menikah: maksimal gaji Rp 10 juta
- Peserta Tapera (satu orang): maksimal Rp 10 juta
Zona 2
Wilayah: Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Maluku, Maluku Utara, dan Bali
- Belum menikah: maksimal gaji Rp 9 juta
- Sudah menikah: maksimal gaji Rp 11 juta
- Peserta Tapera: maksimal Rp 11 juta
Zona 3
Wilayah: Papua, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya
- Belum menikah: maksimal gaji Rp 10 juta
- Sudah menikah: maksimal gaji Rp 12 juta
- Peserta Tapera: maksimal Rp 12 juta
Zona 4
Wilayah: Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang
- Belum menikah: maksimal gaji Rp 12 juta
- Sudah menikah: maksimal gaji Rp 14 juta
- Peserta Tapera: maksimal Rp 14 juta
Rincian ini jadi acuan buat nentuin siapa aja yang masuk kategori MBR dan bisa dapet fasilitas atau insentif perumahan dari pemerintah. Jadi kalau gajimu masih di bawah batas ini, kemungkinan besar kamu masih bisa ikut program rumah subsidi atau dapet bantuan pembiayaan perumahan dari pemerintah.
Disadur dari cnbcindonesia.com