Warga Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, masih dibuat geger dengan kemunculan api misterius yang terjadi berulang kali di sebuah rumah milik Agus Yani. Hingga hari keenam sejak kejadian pertama, titik api terus muncul secara acak dan sudah tercatat lebih dari 40 kali kebakaran kecil di berbagai sudut rumah.
Barang-barang yang terbakar pun beragam, mulai dari kasur, sofa, handuk, boneka anak, tikar, hingga perabot rumah tangga lainnya. Kejadian ini membuat warga sekitar terus berjaga untuk mengantisipasi munculnya api baru.
Mirip Kasus di Gunungkidul Tahun 2015
Fenomena di Seyegan mengingatkan banyak warga pada peristiwa serupa yang terjadi di Gunungkidul pada 2015. Saat itu, rumah keluarga Ladino dan Tugiyah di wilayah Semanu mengalami rentetan kebakaran misterius selama beberapa hari.
Berbagai barang seperti kasur, televisi, pakaian, kain, hingga peralatan dapur dilaporkan terbakar tanpa penyebab yang jelas. Bahkan, kebakaran tidak hanya terjadi di satu rumah, tetapi juga merambat ke beberapa bangunan milik keluarga yang berada di lokasi berdekatan.
Kasus tersebut sempat menjadi perhatian luas karena penyebab pastinya sulit diketahui saat kejadian berlangsung.
Warga Patroli Setiap Malam
Di Sleman, keluarga pemilik rumah bersama warga sekitar kini melakukan patroli rutin setiap malam. Mereka berkeliling memeriksa seluruh bagian rumah setiap 15 hingga 30 menit untuk memastikan tidak ada titik api baru yang muncul.
Salah satu kejadian yang dianggap paling aneh adalah ketika pipa saluran air utama rumah dilaporkan terbakar hingga meleleh. Padahal, pipa tersebut masih dialiri air saat peristiwa terjadi. Kejadian itu bahkan disaksikan dan direkam oleh beberapa warga yang berada di lokasi.
Karena kejadian terus berulang, kewaspadaan warga pun semakin ditingkatkan untuk mencegah kebakaran yang lebih besar.
Polisi Duga Dipicu Gas Metana
Meski sempat menimbulkan berbagai spekulasi, hasil pemeriksaan Tim Gegana Polda DIY mengarah pada dugaan adanya akumulasi gas metana di bawah bangunan rumah.
Menurut kepolisian, gas tersebut masih berpotensi memicu kemunculan api dalam kurun waktu satu minggu hingga satu bulan setelah penanganan dilakukan. Hal ini karena gas diduga sudah menyebar di bawah lantai dan struktur bangunan.
Upaya Penanganan Terus Dilakukan
Sejumlah langkah sudah dilakukan untuk mengurangi risiko kemunculan api, seperti memperbaiki septic tank, menyedot limbah, serta memasang saluran pembuangan gas. Namun, pihak berwenang menyebut kemungkinan munculnya titik api masih tetap ada selama gas metana di bawah rumah belum sepenuhnya hilang.
Karena itu, warga dan keluarga pemilik rumah diminta tetap waspada sambil menunggu kondisi benar-benar aman.
Disadur dari kompas.com