Cara orang mencari rumah sekarang mulai berubah. Kalau dulu harus buka portal properti atau langsung menghubungi agen, sekarang banyak calon pembeli lebih dulu bertanya ke AI seperti ChatGPT, Gemini, Claude, atau Perplexity.
AI bisa membantu menghitung kemampuan beli rumah, membuat simulasi KPR, membandingkan harga properti, sampai mencari kawasan yang sesuai kebutuhan. Semua informasi itu bisa didapat dalam hitungan detik, sehingga proses riset jadi lebih cepat dan praktis.
Survei Bank of America menunjukkan sekitar satu dari lima calon pembeli rumah sudah memanfaatkan AI. Tren ini paling banyak dilakukan oleh generasi muda, terutama milenial dan Gen Z.
AI Pintar, Tapi Belum Bisa Gantikan Agen
Meski canggih, AI ternyata belum bisa sepenuhnya menggantikan peran agen properti. Saat harus mengambil keputusan bernilai besar, kebanyakan orang tetap memilih berkonsultasi dengan agen.
Alasannya sederhana. Agen bisa mendampingi survei lokasi, menjelaskan aspek hukum, memeriksa dokumen, hingga membantu proses negosiasi harga. Hal-hal seperti ini masih sulit digantikan oleh teknologi.
Bahkan, riset dari perusahaan analitik properti Cotality menunjukkan banyak calon pembeli rela meminta profesional memverifikasi informasi dari AI sebelum memutuskan membeli rumah.
Agen Properti Harus Ikut Berubah
Perkembangan AI juga membuat agen properti harus beradaptasi. Sekarang, punya media sosial saja belum cukup. Agen juga perlu membangun jejak digital yang kuat agar lebih mudah ditemukan oleh mesin AI.
Caranya bisa lewat konten edukasi, profil profesional yang lengkap, hingga strategi seperti Generative Engine Optimization (GEO) dan Answer Engine Optimization (AEO). Dengan begitu, peluang direkomendasikan AI kepada calon pembeli atau penjual akan semakin besar.
Masa Depan Properti: AI dan Agen Jalan Bareng
AI memang membuat proses mencari informasi jadi jauh lebih mudah. Namun membeli rumah bukan sekadar membandingkan data atau harga. Ada banyak pertimbangan, mulai dari kondisi pasar, legalitas, hingga proses negosiasi yang tetap membutuhkan pengalaman manusia.
Karena itu, AI sebaiknya dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti agen properti. Ke depannya, kombinasi teknologi dan pendampingan dari agen profesional justru bisa membuat proses membeli rumah menjadi lebih cepat, aman, dan tepat sesuai kebutuhan.
Disadur dari www.nar.realtor