Di kawasan persawahan Kapanewon Tempel, Sleman, masih berdiri sisa bangunan talang air Senoboyo yang menjulang sekitar lima meter. Bangunan ini bukan sekadar beton tua, tetapi juga saksi sejarah teknologi irigasi yang pernah mendukung pertanian dan perkebunan tebu di wilayah tersebut.
Tokoh masyarakat setempat, Sudiharjono (88), menceritakan bahwa saluran air Senoboyo sudah beroperasi jauh sebelum Selokan Van der Wijck dibangun pada 1909–1931 dan Selokan Mataram pada 1944–1945.
Artinya, sistem pengairan ini menjadi salah satu jejak penting perkembangan irigasi masa lalu di Sleman.
Air Sungai Krasak Mengalir Jauh
Dahulu, saluran Senoboyo mengambil air dari Sungai Krasak. Alirannya melewati sejumlah padukuhan, mulai dari Jetis, Celep, Pokoh, Mlinting, Karang, Kemusuh, dan Bulan, hingga akhirnya mencapai Senoboyo.
Dari talang tersebut, air kemudian dialirkan menuju perkebunan tebu di Padukuhan Susukan, Somokaton, dan Bedilan. Aliran airnya juga dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian di Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan.
Menariknya, sebagian bekas saluran yang mengarah ke talang masih bisa ditemukan sampai sekarang. Jejak tersebut menjadi bukti bahwa sistem pengairan ini pernah punya peran penting bagi kehidupan masyarakat dan kegiatan pertanian.
Konstruksi Unik yang Nggak Biasa
Secara fisik, penyangga beton talang Senoboyo masih berdiri kokoh. Dahulu, bagian atasnya dilengkapi saluran air terbuka dengan perkiraan lebar 50 sentimeter dan kedalaman 90 sentimeter.
Saat melewati Sungai Jlegong, konstruksinya menggunakan pipa besi berukuran besar untuk membawa air ke lahan pertanian di seberang sungai.
Teknologi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat pada masa itu berupaya mengatasi kondisi geografis demi memenuhi kebutuhan pengairan.
Roboh pada 1970-an, Tinggalkan Jejak Sejarah
Sayangnya, sistem pengairan Senoboyo mulai berhenti beroperasi pada dekade 1970-an. Menurut Sudiharjono, derasnya arus Sungai Jlegong menggerus fondasi penyangga hingga bergeser. Akibatnya, pipa besi yang melintas di atas sungai roboh.
Sejak saat itu, saluran Senoboyo nggak lagi digunakan. Meski begitu, sisa bangunannya tetap menyimpan cerita penting tentang sejarah irigasi, pertanian, dan perkembangan teknologi pengairan di Sleman.
Disadur dari mediacenter.slemankab.go.id