Festival Sastra Jogja 2025: Seru-Seruan Bareng Komunitas, Ribuan Karya Tumpah Ruah

Yogyakarta balik lagi jadi pusat gegap gempita sastra nasional lewat Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025. Udah masuk tahun kelima nih, tema kali ini “Rampak” yang artinya bareng-bareng, setara, dan harmonis. Pokoknya semangatnya kolaborasi banget.

FSY 2025 dibuka barengan sama acara pra-Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) XI, dari 30 Juli sampai 4 Agustus, di Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG). Lokasinya kece, acaranya rame.

Salah satu program yang bikin heboh tahun ini tuh Sayembara Puisi. Pesertanya bejibun, total ada 4.395 puisi dari 1.465 orang dari seluruh Indonesia. Penjurinya bukan orang sembarangan: Indrian Koto, Yona Primadesi, sama Komang Ira Puspitaningsih. Pengumumannya bakal digelar 2 Agustus.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Yetti Martanti, bilang kalau FSY udah jadi ruang penting buat ngembangin ekosistem sastra sejak 2021. Nggak cuma festival doang, tapi juga wadah ekspresi dan kerja bareng komunitas. Tema “Rampak” sendiri bukan sekadar estetika, tapi filosofi gerak bareng yang rukun dan setara.

Ada lebih dari 60 tokoh sastra dan seniman yang bakal tampil, mulai dari Saut Situmorang, Dewi Lestari, Mahfud Ikhwan, Ramayda Akmal, sampai Fahruddin Faiz. Musikannya juga keren, ada Iksan Skuter dan Melankolia. Bukaannya tanggal 2 Agustus malam, dan penutupannya 4 Agustus di Amphitheater TBEG, dipimpin langsung sama Dewi Lestari.

Fairuzul Mumtaz, kurator FSY sekaligus Ketua Komunitas Suku Sastra, bilang FSY ini jadi tempat penting buat lahirin penulis-penulis baru. Tahun ini bahkan ada sesi pitching novel bareng penerbit Bentang Pustaka. Siapa tahu kamu next-nya yang nerbitin buku.

Acaranya juga beragam, ada lebih dari 30 program yang bisa dinikmatin semua kalangan. Misalnya Pasar Sastra yang digelar 30 Juli–4 Agustus, isinya ribuan buku dan penerbit indie dari IKAPI DIY. Terus ada juga Susur Galur, ngebahas sejarah komunitas sastra Jogja, sama Panggung Teras buat komunitas tampil dan nunjukin karya mereka.

Direktur Festival Kebudayaan Jogja, Paksi Raras Alit, bilang FSY itu ruang literasi yang inklusif banget. Semua orang bisa datang, nulis, baca, dan ngerasa bareng-bareng. FSY bukan cuma acara, tapi gerakan buat ngerawat nilai dan narasi kemanusiaan.

Dengan semangat “Rampak”, FSY 2025 bukan cuma soal sastra, tapi juga soal kebersamaan dan regenerasi. Jogja makin mantap sebagai kota sastra yang hidup dan nggak pernah mati gaya.

Disadur dari jogjakarya.id

Bergabunglah dengan Diskusi

Compare listings

Membandingkan