Harga Properti di Bawah Rp 500 Juta Lagi Turun Sampai 30 Persen, Buruan!

Pasar properti di Jogja sedang berada pada fase yang cukup berat, khususnya buat segmen rumah dengan harga Rp500 juta ke bawah. DPD Real Estate Indonesia (REI) DIY mencatat, harga properti di kelas ini turun cukup dalam, bahkan sampai 30 persen. Biang keroknya ya karena permintaan lagi lesu karena daya beli masyarakat menengah ke bawah makin tertekan sejak awal tahun.

Ketua DPD REI DIY, Ilham Muhammad Nur, bilang kalau segmen rumah di bawah Rp500 juta itu sebenarnya tulang punggung pasar properti. Kontribusinya besar banget, sekitar 40 persen dari total pangsa pasar. Sayangnya, justru di segmen inilah pukulan terasa paling keras. Banyak masyarakat yang niat beli rumah, tapi akhirnya ngerem karena kondisi keuangan belum aman.

Ilham menjelaskan, penurunan penjualan rumah di bawah Rp500 juta bisa sampai 50 persen. Buat menyiasati kondisi ini, developer akhirnya nurunin harga sekitar 20 sampai 30 persen biar unit tetap bisa laku. Strategi banting harga ini dilakukan supaya proyek tetap jalan dan stok nggak numpuk terlalu lama.

Menariknya, kondisi ini berbanding terbalik dengan properti di kisaran Rp600 juta sampai Rp1 miliar. Di segmen tersebut, harga justru naik sekitar 10 sampai 15 persen. Ini nunjukin kalau pasar menengah atas masih relatif kuat, sementara masyarakat menengah ke bawah makin berat buat ambil keputusan beli rumah.

Selain daya beli yang turun, faktor lain yang bikin pasar seret adalah sistem SLIK OJK. Banyak calon pembeli yang riwayat kreditnya terganjal, salah satunya karena terjerat pinjaman online. Ditambah lagi, kemampuan bayar cicilan bulanan juga ikut melemah. Kombinasi ini bikin bank lebih ketat, dan masyarakat makin sulit dapat pembiayaan.

Ilham berharap ada dorongan nyata dari pemerintah buat ngangkat daya beli. Salah satu yang disorot adalah langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang nyiapin suntikan dana Rp200 triliun ke bank-bank Himbara. Harapannya, duit itu bisa muter ke sektor riil dan bikin ekonomi, termasuk properti, ikut bergerak.

Soal insentif PPN Ditanggung Pemerintah, Ilham menilai kebijakan ini lebih terasa manfaatnya buat kelas menengah ke atas. Soalnya, mereka beli properti bukan cuma buat ditinggali, tapi juga sebagai investasi. Sementara masyarakat menengah ke bawah beli rumah murni buat kebutuhan hidup.

Data Bank Indonesia juga menguatkan kondisi ini. Harga properti residensial di pasar primer masih tumbuh terbatas, dengan IHPR naik tipis. Penjualan unit secara keseluruhan memang masih kontraksi, tapi arahnya mulai membaik. Artinya, pasar belum pulih sepenuhnya, tapi ada sinyal pelan-pelan bergerak ke arah yang lebih positif.

Disadur dari harianjogja.com

Bergabunglah dengan Diskusi

Compare listings

Membandingkan