Sendang Keramat Bagusan, Meniti Jejak Spiritual Kyai Raden Bagus Khasantuko di Godean

Di Dusun Senuko, Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean, Sleman, ada satu tempat yang sampai sekarang masih ramai didatangi peziarah: Sendang Keramat Bagusan. Bukan sekadar sumber mata air, sendang ini dipercaya sebagai petilasan Kyai Raden Bagus Khasantuko, seorang aulia yang punya peran penting dalam penyebaran Islam sekaligus dipercaya sebagai cikal bakal Dusun Senuko.

Masyarakat setempat meyakini berendam di Sendang Bagusan bisa menjadi wasilah untuk terkabulnya hajat. Namun, ritual tersebut tetap dimaknai sebagai ikhtiar. Soal hasil akhirnya, semuanya dikembalikan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari Godean hingga Jawa Timur

Pengunjung Sendang Bagusan bukan cuma warga sekitar. Peziarah datang dari berbagai daerah, mulai dari Gunungkidul, Magelang, Semarang, Jawa Timur, hingga wilayah lainnya. Makam Kyai Raden Bagus Khasantuko sendiri berada tepat di sebelah utara sendang, di lokasi yang lebih tinggi.

Menurut juru kunci sekaligus Ketua Paguyuban Pengelola Makam Kyai Raden Bagus Khasantuko dan Sendang Bagusan, Supardiana Saputra atau Mbah Bhe, Kyai Khasantuko merupakan salah satu putra Sunan Amangkurat III, Raja Mataram Islam.

Semasa muda, ia dikenal dengan nama Raden Bagus Kemuning. Konflik internal kerajaan membuatnya memilih meninggalkan kehidupan istana dan menjalani pengembaraan. Ia kemudian berguru kepada sejumlah ulama dan kyai sekaligus berdakwah kepada masyarakat.

Punya Jejak Keturunan Ulama

Kisah Kyai Khasantuko juga terhubung dengan jaringan ulama besar di Jawa. Salah satu putranya, KH Abdurrauf, dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, Gunung Pring, Magelang. Dari garis keturunan tersebut kemudian lahir sosok Kyai Dalhar Kedungpring Magelang.

Menurut Mbah Bhe, jika ditarik garis keturunannya, Kyai Raden Bagus Khasantuko atau Raden Bagus Kemuning merupakan eyang buyut Kyai Dalhar Watucongol Gunung Pring Magelang.

Ziarah Sekaligus Menggerakkan Ekonomi Warga

Ramainya peziarah ternyata ikut memberi dampak positif bagi warga Senuko. Aktivitas ekonomi tumbuh mengikuti arus kunjungan, terutama pada malam Selasa Kliwon, malam Jumat, dan akhir pekan.

Jumlah peziarah biasanya melonjak pada bulan Rajab dan Ruwah menjelang Ramadan. Bahkan, menurut Mbah Bhe, puluhan bus bisa datang setiap hari dari berbagai daerah.

Kini, Sendang Bagusan bukan cuma tempat yang memiliki nilai spiritual. Kawasan ini juga menjadi bagian dari sejarah, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat Senuko yang terus dirawat dari generasi ke generasi.

Disadur dari mediacenter.slemankab.go.id

Bergabunglah dengan Diskusi

Compare listings

Membandingkan