Pasar properti lagi mencermati prediksi kenaikan BI Rate hingga 6,75 persen pada akhir 2026. Proyeksi ini disampaikan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) di tengah tekanan nilai tukar rupiah, tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah, dan kondisi ekonomi global yang masih penuh tantangan.
Kalau prediksi ini jadi kenyataan, dampaknya bakal terasa langsung ke masyarakat yang ingin membeli rumah maupun para investor properti.
Cicilan KPR Berpotensi Naik
Kenaikan BI Rate biasanya diikuti naiknya suku bunga kredit, termasuk KPR. Artinya, cicilan rumah bisa jadi lebih mahal dibanding sebelumnya. Kondisi ini membuat sebagian calon pembeli memilih menunda membeli rumah karena beban cicilan makin berat.
Akibatnya, permintaan rumah, terutama di segmen menengah ke atas, diperkirakan ikut melambat. Sementara rumah dengan harga lebih terjangkau masih diprediksi tetap diminati karena kebutuhan tempat tinggal terus ada.
Developer dan Investor Harus Putar Otak
Menghadapi kondisi ini, developer kemungkinan akan menawarkan berbagai promo agar pembeli tetap tertarik. Mulai dari subsidi bunga, potongan harga, hingga skema pembayaran yang lebih fleksibel.
Di sisi lain, investor yang membeli properti menggunakan pinjaman juga perlu lebih berhati-hati. Kenaikan bunga bisa mengurangi keuntungan sehingga perhitungan investasi harus dilakukan lebih matang.
Masih Ada Peluang Cari Cuan
Meski suku bunga naik, bukan berarti pasar properti berhenti total. Justru investor yang punya dana tunai bisa memanfaatkan momen ketika persaingan pembeli berkurang. Posisi tawar untuk mendapatkan harga lebih menarik pun bisa lebih besar.
Bagi investor yang tetap menggunakan pembiayaan, sebaiknya fokus pada properti yang bisa menghasilkan pemasukan rutin, seperti rumah kontrakan, kos-kosan, atau apartemen sewa di lokasi strategis dekat kampus, kawasan bisnis, maupun transportasi umum.
Diversifikasi juga penting. Jangan hanya mengandalkan properti premium. Menggabungkan investasi di rumah tapak, properti sewa, dan lahan di kawasan berkembang bisa membantu mengurangi risiko saat suku bunga sedang tinggi.
Adaptasi Jadi Kunci
Menurut SMF, tantangan terbesar saat ini bukan cuma kenaikan biaya dana, tetapi bagaimana pelaku industri mampu beradaptasi. Meski bunga berpotensi naik, kebutuhan rumah di Indonesia masih sangat besar karena backlog perumahan masih mencapai jutaan unit.
Artinya, prospek properti jangka panjang tetap menjanjikan. Buat investor, periode suku bunga tinggi justru bisa menjadi waktu yang tepat untuk menyusun strategi baru, memperkuat portofolio, dan berburu aset dengan harga yang lebih menarik sebelum pasar kembali bergairah.