Hari Jadi Kota Surabaya, Hunian dan Transportasi Jadi Sorotan Pakar Properti

Beberapa waktu yang lalu Surabaya resmi berumur 732 tahun, tepatnya pada 31 Mei 2025 lalu. Sebagai kota metropolis, Surabaya jadi magnet buat orang-orang dari berbagai daerah buat cari kerja dan rezeki. Efeknya, penduduk makin padat dan lahan buat hunian makin terbatas.

Pakar properti Paulus Totok Lusida ikut buka suara soal konsep hunian yang pas buat kota sebesar Surabaya. Kata dia, dengan kondisi sekarang, pilihan terbaik ya hunian vertikal kayak apartemen atau rusunawa. Konsep ini udah terbukti jalan di banyak negara Asia buat ngatasin masalah minimnya lahan.

Cuma masalahnya, nggak gampang bikin orang Surabaya mau pindah ke apartemen. Mayoritas masih lebih nyaman tinggal di rumah tapak. Nah, ini jadi PR buat Pemkot. Menurut Totok, biar warga tertarik, pemkot harus kasih insentif: subsidi listrik, air, IPL, sampai kemudahan urus izin. Edukasi soal keunggulan apartemen juga penting, mulai dari fasilitas yang lebih lengkap, keamanan, sampai lokasi strategis.

Masalah lain, banyak warga anggap tinggal di apartemen itu lebih mahal. Ada biaya bulanan buat kebersihan, keamanan, plus tagihan listrik dan air. Solusi dari Totok: IPL digratiskan dulu lima tahun pertama. Biaya bisa ditanggung bareng, separuh sama pengembang, separuh lagi pakai APBD. Setelah itu baru ditentukan sistem bayarnya. Yang penting semua transparan, biar warga percaya.

Totok juga kasih contoh negara lain. Singapura, Thailand, sampai Hongkong dulu juga kesulitan pindahin warganya ke hunian vertikal. Tapi berkat stimulus pemerintah, akhirnya berhasil juga. Bahkan di beberapa negara, pajak rumah tapak lebih mahal dari hunian vertikal. Menurut Totok, aturan kayak gini bisa dipertimbangkan buat Surabaya.

Selain soal hunian, Totok juga soroti masalah transportasi. Jumlah kendaraan pribadi makin banyak, bikin macet di mana-mana, terutama di Surabaya Barat dan Timur. Kata dia, solusi nggak bisa cuma bangun jalan atau flyover. Yang dibutuhkan transportasi publik yang nyaman, murah, dan terkoneksi dengan baik. Kalau transportasi massal jalan, otomatis warga bakal beralih dan kendaraan pribadi berkurang.

Totok tegasin, bikin Surabaya bebas macet dan nyaman ditinggali butuh kerja nyata dan kebijakan yang konsisten. Totok meminta agar pemerintah gak bikin aturan setengah jalan, harus ada kesinambungan biar gak cuman bongkar pasang kebijakan aja.

Disadur dari kumparan.com

Bergabunglah dengan Diskusi

Compare listings

Membandingkan