Proyek Kereta Cepat Jakarta–Surabaya Bakal Dongkrak Properti di Jalur Pantai Selatan

Rencana pembangunan Kereta Cepat Jakarta–Surabaya diprediksi bakal ngedorong perkembangan sektor properti di jalur Pantai Selatan (Pansela) Jawa. Awalnya, proyek gede ini mau lewat Pantura, tapi akhirnya dialihin ke jalur selatan yang bakal ngelewatin Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, Purwokerto, Yogya, Solo, Madiun, sampai Surabaya.

Menurut Bambang Ekajaya, praktisi properti sekaligus Wakil Ketua Umum REI, pemilihan jalur selatan tujuannya buat ngejar pemerataan pembangunan karena wilayah ini relatif lebih ketinggalan dibanding pantura. Selain itu, urusan pembebasan lahan di Pansela juga diprediksi lebih gampang.

Bambang bilang, hadirnya infrastruktur baru kayak Kereta Cepat ini pasti bikin ekonomi di kawasan yang dilewatin naik kenceng. Dampaknya jelas, sektor properti juga bakal ikut meledak. Jenisnya bisa macem-macem, dari hunian, komersial, sampai wisata. Tapi, properti hunian tetep jadi primadona. Kalau di sekitar stasiun ada spot wisata menarik, hotel dan akomodasi pasti juga bakal naik daun.

Fenomena ini nyambung sama tren kerja fleksibel kayak WFH atau WFA. Jadi, karyawan bisa aja tinggal di kota asalnya, tapi cukup sesekali kerja langsung di kantor pusat di Jakarta atau Surabaya. Model begini udah lumrah banget di China, dan kemungkinan bakal makin banyak dipraktikkan di sini.

Tapi, segmen pasar yang bakal paling tumbuh lebih ke menengah atas. Soalnya, harga tiket kereta cepat kemungkinan setara atau malah lebih mahal dari tiket pesawat. Jadi, pasarnya jelas bukan semua kalangan.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bilang kalau dia udah ditugasin langsung sama Presiden Prabowo buat ngawal proyek ini. Targetnya simpel: bikin mobilitas orang, barang, dan jasa di Jawa jauh lebih cepat. Pemerintah juga lagi siapin regulasi baru buat ngejalanin proyek ini.

Kalau jadi jalan, waktu tempuh Jakarta–Surabaya bisa dipangkas jadi sekitar 3,5 jam aja. Bandingin sama kereta reguler sekarang yang butuh 9–10 jam, jelas bedanya jauh banget.

Meski begitu, ada juga wacana buat nggak bikin full high speed kayak rute Jakarta–Bandung, tapi lebih ke semi-cepat alias medium high speed rail. Kecepatannya di kisaran 160–200 km/jam. Pertimbangannya? Supaya lebih efisien dari sisi biaya, plus lebih cocok sama kondisi jalur yang padat pemukiman kayak Cirebon, Semarang, Solo, sampai Surabaya.

Disadur dari kompas.com

Bergabunglah dengan Diskusi

Compare listings

Membandingkan