Di sudut adem Padukuhan Semingin, Sumbersari, Moyudan, ada suara ketukan bambu yang hampir tiap hari kedengeran. Di situlah Misja Maja Utama ngerjain pesanan kandang ayam bambu dari rumah sederhananya. Meski sekarang zamannya kandang besi dan plastik pabrikan, dia tetap setia sama bambu.
Misja mulai serius bikin kandang sejak pindah ke Semingin tahun 2014. Awalnya sih cuma karena hobi pelihara ayam bangkok. Dia bikin kandang sendiri yang kuat dan rapi. Eh ternyata, tetangga yang lihat malah kepincut dan minta dibuatin juga. Dari situ dia kepikiran buat nekunin jadi usaha.
Katanya, dulu cuma buat kebutuhan pribadi. Tapi karena banyak yang suka model dan kualitasnya, pesanan mulai berdatangan. Akhirnya keterusan sampai sekarang.
Dalam sehari, Misja bisa nyelesain dua kandang ukuran sekitar 0,8 x 0,8 meter dengan tinggi kurang lebih 0,9 meter. Harga per unitnya sekitar Rp80 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Buat dia, yang penting kualitas nomor satu.
Bambu yang dipakai nggak asal ambil. Dia pilih yang udah cukup tua dan kuat biar awet. Semua proses dikerjain manual, dari motong bambu, bikin rangka, sampai anyam dinding kandang. Kuncinya ada di ketelatenan, biar hasilnya kokoh dan enak dilihat.
Soal pemasaran, Misja jual langsung ke pembeli perorangan dan juga nitip ke kios perlengkapan ternak di sekitar Moyudan. Bahkan pernah dapet pesanan sampai 30 kandang dari satu kios dalam satu periode. Kalau lagi dapet order besar, dia kerjain bertahap biar mutu tetap terjaga.
Di tengah gempuran kandang modern, kandang bambu punya pasar sendiri. Selain lebih alami dan bikin ayam lebih sejuk, bahan bambu juga ramah lingkungan dan gampang diperbaiki kalau ada bagian yang rusak.
Buat Misja, usaha ini bukan cuma cari duit. Anyaman bambu yang dia susun satu-satu jadi simbol ketekunan dan kemandirian. Prinsipnya simpel, selama orang masih pelihara ayam, kandang bambu pasti tetap dicari.
Disadur dari mediacenter.slemankab.go.id